Tradisi Berbuka Diawali dengan Minum Kopi Arab di Masjid Assegaf Solo


Berikut adalah artikel atau berita yang terjadi di nasional dengan judul Tradisi Berbuka Diawali dengan Minum Kopi Arab di Masjid Assegaf Solo yang telah tayang di pkv1qq.me terimakasih telah menyimak. Bila ada masukan atau komplain mengenai artikel berikut silahkan hubungi email kami di [email protected], Terimakasih.

PORTAL JOGJA– Masjid Jami Assegaf Solo hingga kini masih melestarikan tradisi berbuka puasa yang diawali dengan minum kopi Arab selama Ramadan sejak 1925. Tradisi ini meniru tradisi yang ada di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman.

Awalnya kebiasaan menjamu kopi rempah Arab ini dilakukan selepas Salat Subuh yang disediakan oleh pemilik warung Arab di sekitar Masjid Assegaf. Karena jemaatnya terus bertambah maka pengurus masjid sendiri pun ikut membuat kopi Arab untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Tradisi minum kopi Arab di luar Ramadan tetap dilestarikan selepas Salat Subuh hingga kini, tapi hanya dibagikan pada hari tertentu saja.

Baca Juga: Bikin Seller Dapat Omzet Terbesar dan Keuntungan Terbanyak, Simak Marketplace Pilihan pada Ramadan 2023

Kopi Arab yang disajikan merupakan kopi yang dicampur dengan rempah-rempah seperti jahe, serai, daun jeruk, kapulaga, pandan, kayu manis, pala, dan ditambah gula pasir dan gula jawa. Penambahan rempah-rempah pada kopi karena dipengaruhi oleh nasi kebuli dan kue kaak yang mengandung banyak rempah sebagai hidangan yang disajikan bersama kopi.

Seorang kepala dapur Masjid Assegaf Solo bernama Anwar mengaku bahwa kopi Arab tersebut diracik sendiri yang sebelumnya tinggal mencampur dengan air panas. Karena paket racikan rempahnya yang sudah jadi tersebut, diperoleh dari memesan pedagang yang ahli meracik minuman Arab.

Biasanya kopi mulai dibuat pukul 16.00 WIB dan siap disajikan pada pukul 17.00 WIB. Selain kopi, pihak masjid juga menyediakan 800 bungkus nasi untuk berbuka puasa setiap harinya. Terkadang harus menambah jumlah nasi bungkus untuk antisipasi kurangnya persediaan. Makan sahur pun juga disediakan tapi harus mengikuti Salat Sunnah Lail dulu.

Selain menu buka puasa, pengurus masjid juga menyediakan sarung, perlengkapan salat, dan tali asih kepada pengunjung masjid yang diberikan 10 hari sebelum lebaran.

Baca Juga: Warisan Kesusastraan Islam di Keraton Yogyakarta

Selama bulan Ramadan, pihak masjid telah menyiapkan dana Rp300 juta untuk keperluan kegiatan tersebut. Dana tersebut diperoleh dari kas masjid dan para donatur.

Artikel atau berita di atas tidak berkaitan dengan situasi apapun, diharapkan bijak dalam mempercayai atau memilih bacaan yang tepat. Terimakasih.